Penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balibangkes) terhadap polutan pada 200 sampel yang diambil dari masyarakat Jabodetabek menunjukkan bahwa polusi udara di Jakarta sudah pada tahap mengkhawatirkan.
Dikutip dari Sindonews.com, kanker paru adalah salah satu kanker terbanyak di dunia. Satu dari lima kematian akibat kanker di dunia terjadi akibat kanker paru, dan setiap tahun ada lebih dari 1,8 juta kasus kanker paru baru di dunia.
Kepala Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat, Anwar Musadad seperti diwartakan oleh BeritaSatu.com mengungkapkan bahwa polutan sudah ada di biomarker (urine dan darah) yang bisa berkembang menjadi penyakit kanker.
Sementara itu, dokter penyakit kanker Rumah Sakit Dharmais, Arry Harryanto Reksodiputro kepada SindoNews.com menyebutkan bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor dan berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta, membuat pasien kanker khususnya kanker saluran pernafasan bertambah.
Hal itu terlihat dari tidak tertampungnya pasien kanker di RS Dharmais dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Terlebih, pertumbuhan pengguna kartu Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan (BPJS), pasien kanker semakin tinggi.
Penyakit kanker selama ini menjadi penyakit dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia sebanyak 1,4 per seribu penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor tujuh (5,7 persen) di Indonesia. Penyakit kanker masih sulit untuk ditangani karena sifatnya yang heterogen dan berdampak pada seluruh organ tubuh.
Dody Ranuhardy, dokter ahli penyakit kanker lainnya, kepada PostKotaNews mengatakan penyebab kanker selain polusi udara juga disebabkan oleh kualitas makanan. Mulai dari pengawet, pewarna dan pemanis yang hampir digunakan terhadap seluruh makanan di Jakarta.
Dody berharap Pemprov DKI Jakarta dapat melakukan pencegahan penyakit kanker melalui program penanganan makanan dan kualitas udara dan mengedepankan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di masing-masing wilayahnya untuk mendeteksi penyakit kanker dan menerima rujukan.
"Sudah ada penelitiannya. Jadi kanker paru-paru hingga leukemia itu disebabkan oleh kualitas udara dan sumber makanan yang bebas dari kontrol kesehatan," ujar Dody.
Tulisan ini dari Beritagar.